Creativestation.id – Istilah girlboss dalam bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak awal 2010-an. Awalnya, istilah ini diangkat oleh Sophia Amoruso melalui buku memoarnya yang berjudul #Girlboss. Di dalamnya, ia membagikan perjalanan membangun bisnis fashion bernama Nasty Gal dari nol hingga menjadi besar. Istilah girlboss kala itu identik dengan perempuan ambisius, pekerja keras, dan punya kendali penuh atas hidup serta kariernya.
Namun, seiring waktu, makna girlboss mulai bergeser. Apa yang dulu dianggap simbol pemberdayaan perempuan justru perlahan mendapat kritik dari berbagai arah. Apakah arti girlboss kini masih sama dengan awal kemunculannya? Untuk memahami lebih dalam, simak ulasan lengkapnya lewat sub-subjudul berikut ini.
Perjalanan Makna Girlboss: Dari Empowerment ke Eksploitasi?
Di awal kemunculannya, istilah girlboss dalam bahasa gaul terasa seperti nafas segar dalam gerakan feminisme modern. Tapi benarkah ia membawa perubahan positif? Atau justru memunculkan standar baru yang malah membebani perempuan?
Asal Usul dan Popularitas Girlboss
Kata girlboss muncul pertama kali sekitar tahun 2014. Buku #Girlboss karya Sophia Amoruso langsung menarik perhatian karena menyajikan kisah nyata perempuan muda yang berhasil mencapai puncak karier. Pesan utamanya sederhana: perempuan bisa menjadi pemimpin, bisa membangun bisnis, dan bisa sukses dengan kerja keras—bahkan lebih baik dari laki-laki.
Melalui narasi ini, girlboss jadi istilah keren yang menggambarkan sosok perempuan tangguh, stylish, ambisius, dan punya kehidupan serba ideal. Tidak butuh waktu lama, media sosial pun ikut mempopulerkannya. Feed Instagram dipenuhi potret perempuan mengenakan blazer, duduk di coworking space, sambil memegang kopi dan laptop—ikon khas seorang girlboss.
Namun, semakin populer istilah girlboss dalam bahasa gaul, semakin jelas pula sisi gelapnya. Banyak yang mulai merasa label ini terlalu sempurna dan tidak realistis.
Kritik Terhadap Budaya Girlboss
Awalnya dianggap sebagai bentuk pemberdayaan, istilah girlboss belakangan malah menuai banyak kritik. Beberapa pihak menilai bahwa girlboss bukan gerakan feminis sejati, tapi hanya strategi pemasaran yang mengeksploitasi feminisme untuk kepentingan kapitalisme.
Contohnya, perusahaan yang dipimpin oleh perempuan, termasuk Nasty Gal milik Amoruso sendiri, pernah dituduh menciptakan lingkungan kerja yang toksik. Bahkan, ada mantan karyawan yang melaporkan pemutusan kontrak karena alasan kehamilan.
Alih-alih menghancurkan sistem patriarki, gerakan girlboss dinilai hanya berusaha “menguasai sistem lama dengan wajah baru”. Dengan kata lain, perempuan dipaksa menyesuaikan diri dengan standar kerja maskulin, bukan menciptakan standar baru yang lebih adil dan inklusif.
Dalam bahasa gaul saat ini, girlboss bahkan mulai digunakan secara sarkastik. Di TikTok, istilah ini sering disandingkan dengan “gaslight” dan “gatekeep”—tiga kata yang kini menjadi meme untuk menggambarkan perilaku manipulatif yang dibungkus dengan kemasan empowerment.
Budaya Girlboss di Mata Gen Z: Inspirasi atau Tekanan?
Kalau dilihat di media sosial, istilah girlboss dalam bahasa gaul masih sering digambarkan dengan tampilan keren dan hidup yang nyaris sempurna. Tapi bagaimana dampaknya ke perempuan muda masa kini, terutama Gen Z?
Tekanan Tersembunyi di Balik Tampilan Sukses
Generasi muda sering kali merasa harus tampil seperti girlboss agar dianggap keren dan berhasil. Tuntutan untuk terlihat produktif, ambisius, dan sukses di usia muda semakin tinggi. Tidak jarang, muncul rasa bersalah saat merasa lelah atau tidak produktif. Padahal, manusiawi banget untuk istirahat dan tidak selalu “on fire”.
Sebuah survei dari Harvard Business Review mengungkapkan bahwa lebih dari 60% perempuan profesional mengalami stres berat karena merasa harus selalu membuktikan diri. Tuntutan ini tidak hanya datang dari lingkungan kerja, tapi juga dari media sosial yang menampilkan kesuksesan versi editan.
Makanya, banyak Gen Z mulai mempertanyakan ulang: apakah jadi girlboss itu tujuan hidup, atau cuma tekanan sosial yang dibungkus estetika dan self branding?
Dari Girlboss ke Soft Life: Pergeseran Tren
Tren hidup ala girlboss kini mulai digantikan dengan konsep soft life, yaitu hidup lebih santai, mindful, dan tidak terlalu ngoyo dalam bekerja. Banyak perempuan muda sekarang memilih untuk fokus pada kesejahteraan mental, bukan hanya mengejar jabatan tinggi.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa makna sukses juga ikut berubah. Tidak semua orang ingin jadi CEO di usia 30. Ada yang lebih bahagia menjadi freelancer, ibu rumah tangga, atau pekerja sosial. Dan itu semua valid.
Jadi, girlboss dalam bahasa gaul saat ini bisa bermakna ganda—bisa positif, bisa juga sindiran. Tergantung konteks dan siapa yang mengucapkannya.
Apakah Girlboss Masih Relevan Hari Ini?
Seiring dengan perubahan nilai sosial dan cara pandang terhadap feminisme, istilah girlboss dalam bahasa gaul juga terus berevolusi. Pertanyaannya, apakah istilah ini masih bisa digunakan secara positif?
Mengembalikan Arti Girlboss yang Sehat
Beberapa orang percaya bahwa istilah girlboss masih bisa dipertahankan, asal digunakan dengan makna yang tepat. Tidak harus glamor atau selalu produktif. Menjadi girlboss bisa diartikan sebagai perempuan yang punya kendali atas hidupnya sendiri—mau itu di kantor, di rumah, atau di komunitas.
Artinya, girlboss bukan soal naik jabatan semata, tapi soal punya keberanian untuk memilih jalan sendiri. Termasuk berani menolak ekspektasi yang tidak realistis.
Tapi kalau istilah ini malah bikin stres dan menciptakan standar sempurna yang nggak manusiawi, mungkin sudah waktunya mencari istilah baru. Beberapa orang mulai mengganti istilah girlboss dengan woman leader, feminist in power, atau sekadar perempuan berdaya—tanpa embel-embel gaya hidup mahal atau hustle culture.
Simbol atau Meme? Tergantung Cara Pandang
Di internet, girlboss dalam bahasa gaul juga sering muncul sebagai bahan meme. Misalnya: “Gaslight. Gatekeep. Girlboss.” atau “Be a girlboss, not a doormat.” Meme ini menunjukkan betapa masyarakat sekarang makin kritis melihat balik istilah yang dulu dianggap empowering.
Namun, penggunaan girlboss sebagai meme bukan berarti kehilangan makna sepenuhnya. Bisa juga dipandang sebagai bentuk kritik sosial yang lucu, tapi tetap menyentil.
Istilah girlboss dalam bahasa gaul mungkin sudah tidak sepolos dulu lagi. Dulu dikagumi, sekarang dikritik, bahkan dijadikan meme. Tapi semua itu menunjukkan satu hal: generasi muda semakin cerdas dalam memaknai kesuksesan dan pemberdayaan.
Tidak semua perempuan ingin jadi CEO, dan itu bukan masalah. Yang penting adalah pilihan bebas dan sadar, bukan paksaan dari tren atau ekspektasi sosial.
Kalau kamu merasa ingin sukses, silakan kejar impian. Tapi kalau sedang lelah dan ingin istirahat, itu juga bagian dari perjuangan. Jadilah pemimpin untuk diri sendiri, dengan cara yang paling sesuai dan sehat.
Untuk berita bisnis dan ulasan teknologi terbaru, ikuti terus creativestation.id – sumber referensi kreatif untuk inovasi, bisnis, dan teknologi.









Leave a Comment