Fenomena Aphelion di Indonesia 2025: Ramai di Medsos

Ratih S

July 10, 2025

3
Min Read
fenomena aphelion di indonesia

Creativestation.id – Fenomena aphelion di Indonesia kembali menjadi topik hangat yang ramai dibahas di media sosial sepanjang awal Juli 2025. Banyak warganet mengaitkan suhu dingin belakangan ini dengan peristiwa astronomi tersebut. Namun, para ahli menegaskan bahwa suhu dingin yang melanda beberapa wilayah Indonesia bukanlah dampak langsung dari fenomena aphelion.

Fenomena Aphelion di Indonesia Sebenarnya Apa, Sih?

Fenomena aphelion di Indonesia terjadi pada 4 Juli 2025. Ini merupakan momen ketika posisi Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunannya. Dalam kondisi ini, jarak antara Bumi dan Matahari bisa mencapai sekitar 152,1 juta kilometer—lebih jauh dibandingkan jarak rata-rata yang sekitar 149,6 juta kilometer.

Menurut penjelasan Info Astronomy, orbit Bumi tidak membentuk lingkaran sempurna, melainkan elips (oval). Karena itu, ada dua titik penting dalam satu tahun: perihelion (jarak terdekat) dan aphelion (jarak terjauh). Meski terdengar dramatis, kenyataannya fenomena aphelion ini bukan hal langka karena terjadi setiap tahun di sekitar awal Juli.

Ahli astronomi dari Info Astronomy, Mutoha Arkanuddin, menyebut bahwa fenomena aphelion memang mengurangi radiasi Matahari yang diterima Bumi sekitar 7 persen. “Namun, efeknya terhadap suhu harian di permukaan Bumi sangat kecil, nyaris tidak terasa bagi manusia,” ujarnya.

Banyak warganet menyebut bahwa tubuh mereka merasa lebih dingin, bahkan jatuh sakit, akibat fenomena aphelion. Namun, BMKG menjelaskan bahwa suhu dingin yang terjadi beberapa hari terakhir di Indonesia adalah dampak dari musim kemarau, bukan karena fenomena astronomi tersebut.

Jangan Salah Paham, Ini Penyebab Sebenarnya Suhu Dingin

Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca dingin di Indonesia belakangan ini dipicu oleh beberapa faktor alami yang memang biasa terjadi pada musim kemarau. Salah satunya adalah dominasi angin Monsun Australia yang bersifat dingin dan kering.

Selain itu, langit yang cenderung cerah saat malam hari membuat panas yang tersimpan di permukaan Bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer. Hal ini menyebabkan suhu pagi hari terasa lebih rendah. Di beberapa wilayah, hujan juga masih turun dan membawa massa udara dingin ke permukaan, yang menambah kesan cuaca lebih sejuk.

BMKG mencatat suhu paling rendah di Indonesia dalam periode 1–8 Juli 2025 terjadi di wilayah Frans Sales Lega, Nusa Tenggara Timur, yaitu hingga 11 derajat Celsius. Namun sekali lagi, ini bukan karena fenomena aphelion di Indonesia.

Astronom Amatir, Budi Prasetyo, menegaskan, “Ukuran Matahari memang terlihat sedikit lebih kecil saat aphelion, tapi ini tidak berdampak besar terhadap perubahan suhu harian.” Ia juga menambahkan bahwa fenomena ini tidak bisa diamati secara langsung, melainkan hanya bisa dihitung menggunakan data astronomi.

Fenomena Aphelion di Indonesia Tidak Berdampak Langsung ke Cuaca

Fenomena aphelion di Indonesia pada 2025 memang nyata, tetapi tidak berdampak langsung terhadap kondisi cuaca di permukaan. Beberapa perubahan kecil yang terjadi akibat aphelion antara lain pelambatan gerak orbit Bumi, sedikit penurunan radiasi Matahari, variasi pasang-surut air laut, serta perubahan ringan di lapisan atmosfer atas (ionosfer).

Namun, seluruh efek tersebut berskala kecil dan tidak dapat langsung dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, suhu dingin yang dirasakan sebagian besar wilayah Indonesia di awal Juli ini adalah hal wajar karena musim kemarau yang memang sedang berlangsung, bukan efek dari fenomena aphelion.

Untuk berita bisnis dan ulasan teknologi terbaru, ikuti terus creativestation.id – sumber referensi kreatif untuk inovasi, bisnis, dan teknologi.

Leave a Comment

Related Post