Turut Berdukacita Atas Hilangnya Hati Nurani di Negeri Ini

Dicky Wicaksono

August 29, 2025

5
Min Read
Turut Berdukacita Atas Hilangnya Hati Nurani di Negeri Ini
Turut Berdukacita Atas Hilangnya Hati Nurani di Negeri Ini

MALANG – Saya turut berdukacita atas hilangnya hati nurani di negeri ini dengan krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah Indonesia. Demo 28 Agustus 2025 di depan Gedung DPR RI bukan hanya sekadar unjuk rasa, melainkan teriakan rakyat yang sudah terlalu lama dipinggirkan. Aksi itu adalah wujud nyata kemarahan masyarakat yang tidak bisa lagi ditahan.

Menurut saya, tuntutan yang disuarakan massa begitu masuk akal. Mereka menolak kenaikan gaji dan tunjangan DPR, meminta harga kebutuhan pokok diturunkan, hingga menuntut transparansi pengelolaan anggaran negara. Saya melihat tuntutan itu bukanlah hal berlebihan, melainkan jeritan dari rakyat yang merasa hidupnya kian terhimpit.

Namun, saya justru semakin kecewa ketika aksi damai itu berubah menjadi tragedi. Seolah-olah aspirasi rakyat yang ingin didengar malah dijawab dengan kekerasan. Hati nurani saya menolak cara-cara seperti ini, karena jelas rakyat tidak seharusnya diperlakukan sebagai musuh.

Saya merasa ironi terbesar dalam peristiwa ini adalah hilangnya empati dari penguasa. Alih-alih menenangkan situasi, justru rakyat semakin dijauhkan dari rasa keadilan. Itulah yang membuat saya menuliskan opini ini, sebagai bentuk protes sekaligus doa agar hati nurani bangsa ini kembali hidup.

Ojol Dilindas Mobil Brimob

Salah satu peristiwa yang paling menusuk hati saya adalah insiden tewasnya Afan Kurniawan, pengemudi ojek online berusia 21 tahun. Sebagai tulang punggung keluarga, ia kehilangan nyawa akibat dilindas kendaraan taktis Brimob yang melaju di tengah kerumunan massa.

Saya masih tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga Afan. Rekaman yang beredar jelas menunjukkan mobil baja itu melaju tanpa kontrol, lalu menabraknya hingga tewas di tempat. Bagi saya, ini bukan sekadar kecelakaan, tapi bukti kelalaian fatal yang merenggut nyawa orang tidak bersalah.

Saya menjadi bertanya-tanya, mobil kan mempunyai rem, manusia kan mempunyai otak, apakah mereka tidak mempunyai keduanya? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya.

Bagi saya pribadi, Afan kini menjadi simbol perlawanan. Ia hanyalah rakyat kecil yang sedang mencari nafkah, tetapi justru kehilangan nyawanya di tengah konflik antara rakyat dengan negaranya sendiri. Dan saya yakin, luka ini tidak akan mudah dilupakan begitu saja.

DPR Joget-Joget di Gedung Dewan

Saya masih ingat awal mula kemarahan rakyat memuncak, yaitu ketika DPR terlihat berjoget-joget di Gedung Nusantara saat perayaan HUT RI ke-80. Sebagai rakyat biasa, saya merasa adegan itu benar-benar menyinggung nurani masyarakat yang sedang kesulitan bertahan hidup.

Menurut saya, tingkah laku anggota DPR tersebut menunjukkan betapa jauhnya mereka dari realitas rakyat. Saat masyarakat harus memutar otak demi uang belanja, wakil rakyat justru bersenang-senang dengan fasilitas negara. Saya merasa perayaan itu bukan lagi sekadar hiburan, melainkan bentuk arogansi.

Tidak heran kalau banyak orang, termasuk saya, melihat peristiwa itu sebagai pemicu utama kemarahan. Aksi joget itu seolah menjadi simbol ketidakpedulian DPR terhadap penderitaan rakyat. Bagi saya pribadi, perasaan marah bercampur sedih melihat mereka bisa bersikap seperti itu.

Saya yakin, tanpa momen itu, mungkin kemarahan rakyat tidak akan sebesar sekarang. Tapi karena DPR seolah merayakan diri di atas penderitaan rakyat, demo besar pada 28 Agustus menjadi pilihan yang dianggap wajar oleh banyak orang, termasuk oleh saya yang meski tidak turun ke jalan, tetap merasa tersakiti.

Bentuk Perlawanan Netizen

Saya sendiri tidak turun ke jalan pada demo itu, tetapi saya bisa merasakan atmosfernya lewat media sosial. Menurut saya, perlawanan netizen sangat besar dampaknya. Instagram, TikTok, hingga Twitter dipenuhi dengan postingan, komentar, dan siaran langsung yang menunjukkan kekacauan dan kekerasan aparat.

Bagi saya, inilah bukti bahwa suara rakyat tidak bisa lagi dibungkam. Meski ada imbauan dari kepolisian agar masyarakat tidak melakukan live streaming, nyatanya orang-orang tetap berani menyiarkan kebenaran. Saya merasa keberanian ini adalah bentuk perlawanan yang berbeda, tapi tidak kalah kuat.

Baca Juga: Demo DPR Indonesia Jadi Sorotan Media Taiwan, Ribuan Anak Muda Protes Gaji Tinggi Anggota DPR

Saya juga melihat banyak influencer dan bahkan artis ikut bersuara. Entah dengan menuliskan ACAB 1312, mengunggah video solidaritas, atau sekadar membagikan ulang postingan. Bagi saya pribadi, keterlibatan publik figur ini menandakan bahwa isu ini bukan masalah kecil, melainkan kegelisahan bersama.

Menurut saya, perlawanan digital ini akan terus berlanjut. Karena di zaman sekarang, suara rakyat tidak hanya terdengar di jalanan, tapi juga di ruang digital. Dan saya yakin, media sosial telah menjadi senjata ampuh rakyat untuk melawan narasi tunggal dari pemerintah.

Belum Ada Pernyataan Resmi dari Presiden

Hal yang membuat saya semakin heran adalah sikap Presiden Prabowo. Hingga kini, saya belum melihat ada pernyataan resmi darinya terkait tragedi ini. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada belasungkawa, bahkan sekadar pengakuan atas peristiwa tragis ini pun tidak muncul.

Menurut saya, sikap diam ini menyakitkan hati rakyat. Bagaimana mungkin seorang kepala negara bisa bungkam ketika ada rakyat kecil mati dilindas aparat? Bagi saya, ini bukan hanya soal politik, tetapi soal kemanusiaan.

Ironinya, alih-alih memberi respons, Presiden justru memberikan penghargaan bintang jasa kepada beberapa anggota DPR. Saya pribadi merasa langkah ini seperti menampar wajah rakyat yang sedang berduka. Saat rakyat meminta keadilan, justru penguasa memberi penghormatan kepada mereka yang diprotes.

Saya jadi semakin ragu, apakah suara rakyat benar-benar dianggap ada oleh penguasa? Menurut saya, keheningan Presiden dalam peristiwa ini hanya semakin memperlebar jurang antara rakyat dan pemerintah.

Semoga Indonesia Baik-Baik Saja

Di balik semua kekacauan ini, saya hanya bisa berharap semoga Indonesia baik-baik saja. Saya menulis opini ini bukan karena benci negeri sendiri, tetapi justru karena cinta. Bagi saya, kritik adalah bentuk kepedulian, bukan kebencian.

Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Afan Kurniawan. Menurut saya, polisi yang mengendarai mobil Brimob itu harus diberi sanksi tegas, bukan sekadar permintaan maaf. Keadilan untuk Afan adalah keadilan untuk seluruh rakyat.

Baru saja Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaannya, tetapi kenyataannya rakyat masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat. Saya merasa keadaan ini sangat menyedihkan, bahkan ironis. Apakah ini wajah bangsa yang katanya “berdaulat atas rakyat”?

Sebagai masyarakat biasa, saya hanya bisa menyuarakan isi hati saya lewat tulisan ini. Semoga kelak ada keadilan yang benar-benar ditegakkan, dan semoga bangsa ini tidak kehilangan hati nuraninya. Karena bagi saya, Indonesia hanya bisa berdiri tegak kalau rakyatnya diperlakukan dengan adil.

Baca Juga: Aksi Demonstran Mahasiswa Malaysia di Depan Kedubes RI, Suarakan Solidaritas untuk 400 Orang yang Ditangkap saat Demo DPR

  1. […] Baca Juga: Turut Berdukacita Atas Hilangnya Hati Nurani di Negeri Ini […]

  2. […] Baca Juga: Turut Berdukacita Atas Hilangnya Hati Nurani di Negeri Ini […]

Leave a Comment

Related Post