Doomscrolling Adalah Ancaman Baru di Era Informasi Cepat

Grace Kiraisha

January 26, 2026

4
Min Read
Doomscrolling Adalah Ancaman Baru di Era Informasi Cepat
Doomscrolling Adalah Ancaman Baru di Era Informasi Cepat

Creativestation.id – Doomscrolling adalah fenomena digital yang semakin sering dialami masyarakat modern, terutama sejak konsumsi berita dan media sosial menjadi bagian dari rutinitas harian. Aktivitas ini terjadi ketika seseorang terus-menerus menggulir layar untuk membaca berita negatif tanpa henti, meski sadar bahwa konten tersebut memicu kecemasan. Dalam konteks era informasi cepat, doomscrolling bukan sekadar kebiasaan, tetapi pola perilaku yang memengaruhi kesehatan mental dan cara manusia memproses informasi.

Pengertian Doomscrolling dalam Kehidupan Digital

Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi berita buruk secara berlebihan melalui perangkat digital seperti ponsel dan laptop. Perilaku ini sering muncul tanpa disadari karena didorong rasa ingin tahu dan kebutuhan untuk terus terhubung dengan informasi terbaru. Meski tampak sepele, doomscrolling dapat menguras energi emosional dalam jangka panjang.

Fenomena ini banyak terjadi di platform media sosial dan portal berita yang menyajikan pembaruan real time. Algoritma digital memperkuat kecenderungan ini dengan menampilkan konten serupa secara berulang. Akibatnya, pengguna terjebak dalam siklus konsumsi informasi negatif yang sulit dihentikan.

Faktor Psikologis di Balik Doomscrolling

Doomscrolling adalah respons psikologis terhadap ketidakpastian dan rasa takut akan ketinggalan informasi penting. Otak manusia secara alami tertarik pada ancaman karena dianggap relevan untuk bertahan hidup. Dalam dunia digital, naluri ini dimanfaatkan oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Kondisi stres dan kecemasan membuat seseorang lebih rentan terhadap doomscrolling. Ketika pikiran mencari kepastian, berita negatif justru dikonsumsi lebih banyak. Hal ini menciptakan lingkaran emosional yang sulit diputus tanpa kesadaran diri. Selain itu, kebiasaan membandingkan diri dengan kondisi orang lain di media digital turut memperkuat dorongan doomscrolling karena memicu rasa khawatir dan ketidakamanan emosional.

Baca juga: Realita Quarter Life Crisis yang Sering Disepelekan

Peran Media Sosial dalam Memperkuat Doomscrolling

Media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan konten yang memicu doomscrolling. Judul sensasional dan visual emosional dirancang untuk menarik perhatian dalam hitungan detik. Tanpa disadari, pengguna menghabiskan waktu lama hanya untuk menggulir layar.

Doomscrolling adalah konsekuensi dari desain platform yang mengutamakan keterlibatan pengguna. Fitur infinite scroll membuat aktivitas membaca terasa tanpa batas. Kondisi ini menurunkan kontrol diri dan meningkatkan konsumsi konten negatif.

Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental

Doomscrolling adalah salah satu pemicu meningkatnya gangguan kecemasan dan stres. Paparan berita buruk secara terus-menerus dapat memperburuk suasana hati dan menurunkan kualitas tidur. Banyak individu merasa lelah secara mental meski tidak melakukan aktivitas fisik berat.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi cara berpikir dan persepsi terhadap dunia. Individu menjadi lebih pesimis dan mudah merasa terancam. Oleh karena itu, dampak doomscrolling tidak boleh dianggap ringan.

Doomscrolling dan Produktivitas Sehari-hari

Doomscrolling adalah kebiasaan yang sering mengganggu fokus dan produktivitas. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja atau belajar justru habis untuk membaca berita negatif. Konsentrasi menurun karena pikiran dipenuhi informasi yang membebani emosi.

Selain menghabiskan waktu, doomscrolling juga menurunkan motivasi. Perasaan cemas membuat seseorang sulit memulai atau menyelesaikan tugas. Hal ini berdampak langsung pada performa akademik maupun profesional.

Ciri-ciri Seseorang Mengalami Doomscrolling

Seseorang yang mengalami doomscrolling biasanya sulit berhenti membaca berita buruk meski merasa tidak nyaman. Ada dorongan kuat untuk terus mencari pembaruan meskipun informasi tersebut tidak memberikan solusi. Perilaku ini sering disertai rasa gelisah saat tidak memegang ponsel.

Doomscrolling adalah tanda bahwa konsumsi informasi sudah melewati batas sehat. Ketika emosi negatif muncul setelah membaca berita, namun aktivitas tetap dilanjutkan, hal tersebut menjadi indikator penting. Kesadaran akan ciri ini membantu langkah pencegahan lebih awal.

Cara Mengelola Doomscrolling Secara Sehat

Mengelola doomscrolling dimulai dari membatasi waktu penggunaan media digital. Menentukan jam khusus untuk membaca berita membantu otak beristirahat dari paparan informasi negatif. Langkah ini efektif untuk menjaga keseimbangan emosi.

Selain itu, memilih sumber informasi yang kredibel dan berimbang juga penting. Doomscrolling adalah masalah perilaku, bukan kebutuhan informasi. Dengan kontrol diri dan kebiasaan digital yang sehat, risiko dampak psikologis dapat diminimalkan.

Baca juga: Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Kalangan Anak Muda

Leave a Comment

Related Post